Telp Kantor 0812 4803 4893
Jam Kerja Senin - Jumat (08:00 - 16:00 WIT)

“48 Tahun Refleksi, Relevansi & Tanggung Jawab Keilmuan” menjadi tema dalam acara Dies Natalis Antropologi ke-48th.

Diawal kalender 2026 dimulai dengan kegiatan perdana di lingkungan kampus orange, Aula FISIP Universitas Cenderawasih, dalam rangka Dies Natalis Antropologi yang jatuh tepat pada tanggal 9 Januari, sejak 1978 Antropologi berdiri di Uncen kini mencapai usia nya yang ke 48th, usia yang tidak lagi muda. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Ibu dosen, alumni dan puluhan mahasiswa/i serta media Jubi.

Selama acara kami dihibur dengan lagu-lagu Mambesak oleh Black Kamara Grup Musik Akustik Papua, yang seakan menghidupkan kembali aura Grup Legend yang dipimpin oleh Alm Arnold C. Ap, Founding Father of Mambesak dan kawan-kawan di era tahun 80-an.

Kami dilayani dengan berkat jamuan kasih yang langsung diambil dari hasil tanah yang diberkati, bukan antropologi kalau temanya bukan pangan lokal.

Selpi Yeimo adalah salah satu perempuan Papua yang hebat, alumni antropologi Uncen angkatan 2011 yang menjadi MC (Master Of Ceremony) di acara ini yang setelah selama 12 tahun meninggalkan almamater dan pada kesempatan ini boleh kembali di kampus tercinta di situasi yang berbeda dengan semangat membara walaupun dalam keadannya mengandung usia 5 bulan tetapi energinya membuat suasana tetap hidup dengan membakar api semangat para audiens.

Narasumber di acara ini adalah orang tua kami yang hebat, dosen senior yang telah memberikan banyak karya-karya dan dedikasinya terhadap ilmu antropologi dan bagi tanah Papua, walaupun sekarang mereka tidak lagi aktif mengajar mereka adalah pelaku dan saksi hidup proses panjang lahirnya Jurusan Antropologi di Universitas Cenderawasih. Mereka adalah Bpk Josz R. Mansoben, Ph.D & Bpk Dr. Agus Dumatubun. MA suatu kehormatan bisa berjumpa dengan mereka, dan salah satu anak didik mereka boleh duduk bersama mereka sebagai narasumber yang kini adalah sebagai Profesor dan Guru Besar Ilmu Antropologi Uncen Bpk Fredrik Sokoy. S.Sos., M.Si.

Dan moderator keren salah satu perempuan Papua yang hebat, alumni Antropologi Uncen yang lulus pada tahun 2008, kaka ibu Tien Virginia Arisoy. S.Sos., M.Si yang berbakat pernah menjadi salah satu Model di ajang Fashion Show mewakili Papua di kanca Nasional & Internasional dan hingga saat ini eksis di dunia Fashion/, tidak diragukan bahwa orang antropologi bisa dipakai dimana saja.

Sejarah Antropologi di Papua

Pada zaman pemerintahan Belanda Antropologi sudah berperan dalam pembangunan di Papua. Jan van Baal mengawali karier politiknya di wilayah Nederlands Nieuw Guinea, sebagai Kepala Kantor Bevolkingzaken di Hollandia, sekarang dikenal sebagai Kota Jayapura. Lembaga yang dipimpin Jan van Baal ini selalu menerima laporan-laporan etnografi dan budaya dari para Bestur atau Kepala Distrik di seluruh wilayah Nederlands Nieuw Guinea.

Melalui laporan budaya dan etnis setiap suku di tanah Papua, pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dan juga pemerintah Belanda membuat kebijakan untuk membuat rencana pembangunan masa depan Papua kala itu. Van Baal adalah salah seorang Antropolog yang telah mendukung pembangunan Papua dari perspektif antropologi, dimana manusia, alam dan kebudayaan menjadi hal paling krusial dalam pembangunan suatu daerah diantara kemajemukan suku, bahasa dan keanekaragaman hayati di Papua, karya-karya tulisannya terdapat di beberapa tempat di STFT, STT Kristen dan lainPapua

Pada dasawarsa itu para misionaris dari Zending Katolik dan Kristen dari berbagai negara Belanda, Jerman, Amerika mereka memiliki peran krusial dalam membangun Manusia Papua hingga pada era 80-an, mereka datang dan tinggal langsung dan hidup bersama masyarakat di suatu daerah dengan rentan waktu yang lama, mereka tidak hanya mengajar tetapi belajar beradaptasi dengan manusia, alam, dan lingkungan.

Para Misionaris bukan hanya memberitakan injil tetapi mereka juga punya keterampilan seperti pertukangan, pertanian, kesehatan dan semua itu mereka ajarkan kepada masyarakat bukan su. Mereka dilengkapi dengan berbagai keterampilan, sangat multitalent apa yang mereka lakukan itu berhasil dicatat, direkam dan diarsipkan sehingga menciptakan karya-karya etnografi yang kaya yang bisa kita akses saat ini lewat media tulisan dan visual.

Cikal bakal Antropologi di Universitas Cenderawasih

Cikal bakal Jurusan Antropologi dimulai saat Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih didirikan berdasarkan SK MENTRI PTIP Nomor 82 tanggal 20 juli 1963. Status Lembaga Penelitian setingkat dengan Fakultas dan membawahi tiga bidang: Pendidikan, Penelitian dan Museum. Ketua Lembaga Penelitian, yakni Profesor Dr. R. Koentjaraningrat sejak 1963 hingga 1980 (dalam pelaksanaannya tugas ketua dilaksanakan oleh pelaksana harian: (1.Drs Anwas Iskandar, 1964 – 1974), (2. Dr. Suharno, 1975 – 1980). Lembaga Antropologi berubah status menjadi UPT Museum 1980 – sekarang. Kegiatan: Bidang Museum: Koleksi benda etnografi di berbagai tempat di Tanah Papua; Menginvetarisasi, katalogisasi dan display benda-benda etnografi.

Jurusan antropologi di buka di Universitas cenderawasih pada tanggal 9 Januari 1978 dan berada di bawah Fakultas Ilimu Hukum, Ekonomi dan Sosial. Tenaga Pendidik: Terdiri atas tenaga dosen dari Universitas Cenderawasih dan tenaga dosen terbang dari Universitas Indonesia (Prof Dr. Koentjaraningrat, Prof Dr. Parsudi Suparlan, Prof Dr, James Dananjaya; Prof Dr. Nico Kana; Dra Anrni; Prof Dr. Thamrin Anggaloma). Tenaga dosen terbang dari Universitas Indonesia pada akhir tahun 1987 berakhir dan seluruh kegiatan pendidikan dilaksanakan oleh tenaga dosen dari Universitas Cenderawasih sendiri, setelah sebagaian dari tenaga dan dosen pencangkokan kembali ke Universitas cenderawasi pada saat itu dan sesudahnya.

Lembaga Antropologi yang didirikan pada tanggal 20 Juli 1963 di gedung Museum Loka Budaya, tepat 8 bulan setelah lahirnya Uncen pada tanggal 10 November 1962.
Museum Loka Budaya dibangun oleh Yayasan Rockefeller Foundation untuk mengenang anaknya Michael Rockefeller yang hilang di hutan Asmat.

Koenjraningrat melakukan penelitian di orang Bonggo dekat Sarmi, dan beberapa daerah lain di Papua, dan menulis buku (𝘐𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘑𝘢𝘺𝘢: 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘔𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘔𝘢𝘫𝘦𝘮𝘶𝘬).

Bpk Parsudi Suparlan melakukan penelitian tentang orang Arso hasil penelitian beliau dimuat dalam makalah, dimasa awal fokus Lembaga Antropologi adalah penelitian.

Pada masa itu Lembaga Antropologi diprakarsai oleh orang-orang Linguis tetapi juga mereka mempunyai andil yang besar terhadap ilmu Antropologi, sehingga mereka yang menjadi pionir untuk mendirikan Antropologi sebagai Jurusan di Universitas Cenderawasih.

𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝗶𝗽𝗹𝗶𝗻 𝗟𝗶𝗻𝗴𝘂𝗶𝘀 𝗔𝗻𝘁𝗿𝗼𝗽𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟴 𝗮𝗱𝗮 𝟯 𝗽𝗶𝗹𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗳𝗼𝗸𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗶𝘁𝘂:
1. Hubungan antar Bahasa, Kebudayaan, dan Identitas Suku-suku di Papua.
2. Dokumentasi Keberagaman Bahasa Lokal di beberapa suku di Papua beberapa diantaranya adalah, Sentani, Hubula, Enggros, Tobati, Imbi, dan Pantai Utara Jayapura di Sarmi.
3. Peran bahasa dalam sistem sosial, adat, dan tradisi lisan.

𝗗𝗼𝘀𝗲𝗻, 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗝𝘂𝗿𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗟𝗶𝗻𝗴𝘂𝗶𝘀 𝗔𝗻𝘁𝗿𝗼𝗽𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗶𝗮𝗹𝗮𝗵:
1. Dr. Ignatius Suharno
2. Drs. S. A. Patty
3. Oscar Siregar BA
4. Drs. Barkis Suraadmadja
5. Dosen Tamu UI, UGM
6. Dosen Lokal STFT, STF Kristen, SIL
7. Staf Adm-Tenaga Lembaga Antropologi Uncen

Infrastruktur pendukung adalah Gedung Lembaga Antropologi atau yang kita kenal sekarang sebagian Museum Loka Budaya Uncen. Beberapa pelaku diatas mereka yang mula-mula bekerja untuk membangun Jurusan Linguis Antropologi di bawah Fakultas Hukum, Ketataniagaan, Ketatanegaraan (FHKK) di Uncen, waktu itu belum menjadi FISIP, SK dikeluarkan pada 20 Maret 1978.

Penulis : Dorus Walianggen, Mahasiswa Antropologi Sosial

Sumber : https://doruswalianggen.medium.com/refleksi-antropologi-di-masa-lalu-relevansinya-di-masa-kini-dan-tanggung-jawab-keilmuan-di-masa-4bae449a7c74

Previous UNCEN Buka Program Studi S1 Pariwisata, Siap Cetak Profesional Berbasis Kearifan Lokal Papua

Gedung B Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Polotok – Jl. Kamp Wolker, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram – Kota Jayapura, Provinsi Papua

Senin – Jumat : 8:00 – 16:00 WIT

Lokasi Kantor

Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik © 2025. All Rights Reserved